PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

Posted on 13 views

Kalimat pertama dari rumusan tersebut, mengupakan saran Mr. Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai sedangkan kalimat terakhir hasil pikiran Drs. Moh Hatta.
Ia menganggap hal pertama hanya merupakan pernyataan dari kemauan bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan. Pendapat itu tertera dalam rumusan hal terakhir dari naskah Proklamasi tersebut.
Setelah selesai disusun maka teks proklamasi tersebut kemudian dibawa ke ruang serambi untuk dimusyawarahkan dengan semua yang hadir., namun pada saat itu muncul sebuah masalah yaitu siapa yang akan menandatangani teks proklamasi tersebut. Tiba-tiba Sukarni mengusulkan agar naskah Proklamasi si di tandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Setelah usul itu disetujui kemudian Soekarno meminta kepada Sayuti Melik untuk mengetik naskah Proklamasi tersebut, setelah selesai diketik barulah naskah itu ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Naskah inilah yang merupakan Naskah Proklamasi yang otentik atau resmi.

proklamasi kemerdekaan Indonesia

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan di halaman rumah Ir. Soekarno Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta

Pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung di tempat itu pada hari Jumat 17 Agustus 1945 pukul 10.30

Adapun bendera merah putih yang akan dikibarkan saat itu telah dijahit oleh Ibu Fatmawati istri Ir. Soekarno

dengan Tiang Bendera yang sangat sederhana yaitu bambu yang tumbuh di halaman belakang rumah Ir. Soekarno

hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 tersebut bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 H merupakan hari yang sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia

teks proklamasi tersebut dibacakan oleh Ir Soekarno sendiri dengan disaksikan oleh banyak orang yang hadir pada saat itu

upacara tersebut berlangsung sederhana akan tetapi mengandung makna yang sangat dalam

Ir Soekarno tampil ke depan mikrofon untuk membacakan teks proklamasi kemerdekaan tersebut. Setelah itu dilakukan pengibaran chudancho Latief hendraningrat dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh semua hadirin. Peristiwa ini diabadikan dalam foto-foto yang pemotretannya dilakukan oleh wartawan Syahruddin

Sebelum membacakan teks proklamasi, Ir Soekarno menyampaikan pidato pendahuluan yang berbunyi saudara-saudara sekalian saya telah minta saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa Maha penting dalam sejarah kita berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita bahkan telah beratus-ratus tahun gelombangnya.
Aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita juga.
Di dalam zaman Jepang usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti di dalam zaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka tetapi pada hakekatnya tetap kita menyusun tenaga sendiri. Tetap kita percaya kepada kekuatan sendiri sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kekuatannya.
Maka kami tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka – pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia permusyawaratan itu se iya sekata berpendapat bahwa Sekaranglah datang Saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

saudara-saudara

dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu, dengarkanlah Proklamasi kami!
Demikianlah saudara-saudara
Kita sekarang telah merdeka, tidak ada satu ikatan yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita mulai saat ini.
Kita menyusun negara kita negara merdeka negara Republik Indonesia merdeka, kekal dan abadi.
Insya Allah Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.

Kondisi rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta setelah proklamasi kemerdekaan

Rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 memang memiliki nilai sejarah yang tinggi karena di rumah tersebut proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan  S etelah itu bangunan rumah tersebut dikenal sebagai gedung Proklamasi dan menjadi pusat kegiatan pemerintah Republik Indonesia di Jakarta.

Pada tanggal 1 Januari 1961 gedung bersejarah tersebut dirobohkan. di lokasi rumah tersebut dibangun Gedung Pola yang menandai dimulainya pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahapan Pertama.

Kantor Berita Antara Pada Saat Kemerdekaan.
Kantor Berita Antara berdiri tahun 1937 pada masa pendudukan Jepang namanya diubah menjadi Yashima.
dan menjadi bagian dari kantor berita Domei yang turut menyebarluaskan berita Proklamasi 17 Agustus 1945 ke seluruh Nusantara bahkan ke luar negeri.

Berita proklamasi saat itu tersebar luas ke seluruh pelosok Indonesia dengan menggunakan peralatan informasi seadanya dan serba kekurangan karena pada saat itu keinginan para pejuang untuk menyebarkan berita proklamasi sangat tinggi. Hal itu merupakan cerminan sikap heroik dari para pejuang demi menegakkan kedaulatan bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

berita tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia itu hampir setiap setengah jam sekali yang disiarkan melalui radio
sehingga berita terseb

ut juga terdengar oleh pimpinan tentara Jepang yang kemudian segera menginstruksikan untuk meralat berita itu sebagai kekeliruan. Hal itu jelas membuktikan bahwa apa yang pernah dijanjikan oleh perdana menteri Jepang tentang kemerdekaan bagi Indonesia ternyata hanya janji belaka.

TERBENTUKNYA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Negara Republik Indonesia berdiri pada tanggal 17 Agustus 1945 belum memiliki undang-undang dasar dan kepala negara. Maka pada tanggal 18 Agustus 1945 satu hari setelah proklamasi kemerdekaan PPKI mengadakan sidangnya pertama di Gedung Kesenian -Jakarta, sidang tersebut menetapkan keputusan-keputusan sebagai berikut

1. Mengesahkan UUD 1945 yang telah dirancang oleh BPUPKI menjadi UUD Negara RI
2. Memilih Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta sebagai presiden dan wakil presiden RI yang pertama
3. Membentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bertugas membantu presiden

PERISTIWA PENTING SILA KE- 1 PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

Drs. Moh. Hatta bercerita kepada Ki bagus Hadikusumo bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 sore Iya didatangi oleh Perwira Angkatan Laut Jepang yang mengaku membawa suara umat Kristen di Indonesia timur, perwira Jepang tersebut menyebut bahwa ada pihak yang keberatan atas bunyi sila pertama dasar negara “Ketuhanan” yaitu “Dengan Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Jika kalimat itu tetap ada maka mereka akan memilih berdiri sendiri di luar negara Republik Indonesia.
Kemudian sebelum sidang PPKI dimulai Drs. Moh. Hatta bersama tokoh nasional lainnya yang beragama Islam diantaranya Mr. Teuku Muhammad Hassan, Ki bagus Hadikusumo dan Mr. Kasman singodimedjo merundingkan hal tersebut dan mereka sangat memahami adanya keberatan tersebut.

Drs Moh Hatta menghimbau kepada Ki bagus Hadikusumo agar merelakan jika kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” itu dicoret demi persatuan bangsa Indonesia.
Ki bagus Hadikusumo pun menyetujui hal itu karena umat Islam memang seharusnya berkewajiban untuk melaksanakan syariat Islam nya tanpa tergantung kepada ada atau tidaknya 7 kata itu. brliau mengusulkan agar di belakang kata ketuhanan ditambahkan anak kalimat Yang Maha Esa. Lalu disetujui oleh Drs Moh Hatta.

Dalam sidang PPKI sila pertama Pancasila diubah kalimatnya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Piagam Jakarta disahkan sebagai Pembukaan UUD 1945.

Pasal/ isi UUD 1945 dibahas secara bersama-sama, kemudian menghasilkan keputusan penting yaitu mengesahkan Undang-Undang Dasar
yang sebelumnya telah dirancang oleh BPUPKI dikenal dengan nama undang-undang Dasar 1945 yang disingkat menjadi UUD 1945.

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilakukan secara aklamasi yaitu pemberian suara dalam rapat tidak dengan dihitung hanya dengan lisan dan disetujui, kemudian mengusulkan nama Ir. Soekarno sebagai presiden dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakilnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.